Teater Virtual; Semata Siasat atau Jelajah Baru?

 

Diskusi Kaleidoskop Teater Indonesia 2020 yang bertajuk “Teater: Pandemi dan Digitalisasi” digelar Jumat, 11 Desember 2020 oleh Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (Penastri). Penastri didirikan November lalu oleh pegiat teater yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia untuk membangun ekosistem teater yang lebih baik.

 

Diskusi menghadirkan pembicara Faiza Mardzoeki, Silvester Petara Hurit, Nurul Inayah, Elyda K. Rara, Eka Nusa Pertiwi, I Wayan Sumahardika juga penanggap Yudi Tajudin dan moderator Ibed Surgana Yuga. Diskusi tersebut merupakan aktivitas publik pertama Penastri yang dihadiri sekira 130 peserta dari berbagai latar belakang. Sejumlah ihwal terkait siasat teater di masa pandemi dimunculkan. Saya mengurai dan memaknainya di tulisan ini.

 

Siasat Teater Virtual

Pembicaraan tentang teater virtual atau digital mengisi sepuluh bulan perjalanan pandemi Covid-19 di Indonesia. Sebuah masa krisis, hentakan keras bagi pegiat teater yang selama ini melakukan kerja penciptaan teater secara tatap muka. Faiza Mardzoeki, penulis naskah dan sutradara dari Institut Ungu Yogyakarta, menjelaskan situasi tak biasa tersebut sebagai situasi yang dipaksa yang justru memunculkan daya kreatif.

 

Daya kreatif ditandai Faiza saat proses penciptaan teater film Waktu Tanpa buku karya Lene Therese Teigen yang diterjemahkannya dan tayang secara virtual awal Desember ini. Lima sutradara perempuan yang diundang untuk menafsir Waktu Tanpa Buku mendiskusikan peran aspek kamera dan estetika teater. Kamera dan panggung dianggap sebagai aspek teater yang cukup kental. Tautannya telah terlihat jauh sebelum pandemi melanda, semisal upaya dokumentasi pertunjukan teater dengan memikirkan secara saksama perekamannya.

 

Peran dominan aspek kamera di teater di masa ini tidak terhindarkan. Potensi kamera mesti dipikirkan secara serius. Atas dasar tersebut istilah teater film lantas disematkan untuk lima pertunjukan Waktu Tanpa buku yang menyodorkan kolaborasi antara teater dan film. Siasat teater film disebut Faiza sebagai kemungkinan baru teater di masa pandemi.

 

Silvester Petara Hurit memunculkan pertanyaan atas kolaborasi teater dan film “Sebenarnya, kita menggarap teater atau film?” Bagi Silvester teater memiliki kekhasan sebagai sebuah pertemuan langsung yang memberi kehangatan yang tidak tergantikan oleh kecanggihan media digital. Pada titik itu teater virtual memberi ruang untuk dijelajahi sekaligus memperlihatkan watak keterbatasan.

Silvester juga merasakan kecemasan atas siasat teater virtual, perihal bagaimana membangun pertumbuhan emosi sebagai kesatuan dramatik pertunjukan di depan mata kamera yang diasumsikan sebagai mata penonton. Sinyal internet yang bisa tiba-tiba hilang dan aspek kepenontonan yang tak tergantikan oleh teater virtual merupakan kecemasan lain yang mengikuti.

 

Bersama Seniman Teater Flores Timur (STFT), Silvester membuat pertunjukan teater virtual Tana Tani dalam rangkaian UrFear, Huhu dan Kerumunan Peer Gynt produksi Teater Garasi. Dalam kondisi terdesak dan waktu singkat Tana Tani dapat dipentaskan. Ruang yang tadinya tersekat jauh oleh jarak menjadi terbuka. Siasat teater virtual telah memperlihatkan pemaknaan baru atas pertemuan, dialog, interaksi, dan saling membaca dalam konteks teater saat ini.

 

Siasat teater virtual juga diungkap Nurul Inayah, aktor dan sutradara dari Kala Teater Makassar. Perpindahan ruang teater dari langsung ke virtual tidak serta merta dapat dilakukan sebab ada situasi baru yang mesti dilihat dan dipelajari. Saat memutuskan untuk berpindah ke ruang teater virtual, setelah empat bulan pandemi berlangsung, sejumlah hal berubah. Proses latihan sebagian besar dilakukan secara virtual begitu pula dengan pertunjukan yang berhadapan dengan mata kamera.

Menurut Nurul, tuntutan yang dirasakan aktor ketika berhadapan dengan mata kamera sangat berbeda ketika berhadapan langsung dengan mata penonton. Emosi permainan berupaya dikirimkan melalui mata kamera dengan resiko tereduksinya tangkapan emosi tersebut. Belum lagi perihal perekaman suara aktor yang siasatnya sangat berbeda jika dilakukan di pertunjukan teater secara langsung.

Sejumlah percobaan siasat yang dilakukan Nurul bersama Kala Teater dalam tiga pertunjukan teater virtual yang dicipta selama pandemi memantulkan pertanyaan; “Apakah teater virtual merupakan siasat temporer ataukah bentuk baru teater?” Jika ia adalah bentuk baru maka sutradara, aktor, dan semua yang terlibat dalam proses penciptaan teater perlu untuk mempelajari keahlian berbeda, semisal teknik audiovisual.

Siasat teater virtual yang selama pandemi digunakan sebagai jalan untuk tetap berekspresi dapat kita sikapi sebagai upaya perluasan jangkauan teater. Siasat ini tidak melulu tentang pertunjukan melainkan menyentuh pula aspek lain dalam ekosistem teater, yaitu kepenontonan dan penyebaran pengetahuan. Elyda K. Rara, direktur Kamateatra Art Project Malang, memanfaatkan situasi ini untuk mengajak siswanya menulis kritik pertunjukan. Dia mengundang praktisi teater untuk berbicara  secara dalam jaringan melalui platform Instagram. Respons siswa dan mahasiswa cukup menggembirakan.

Eka Nusa Pertiwi, ketua Suara Teater Nusantara dan aktris dari Yogyakarta menyatakan ketidaksetujuannya atas teater virtual. Dasar ketidaksetujuan Eka adalah bahwa bahasa teater dan bahasa film berbeda. Eka lebih memilih untuk memutar secara digital dokumentasi pertunjukan teater dan mendiskusikannya dengan praktisi dan periset teater.

I Wayan Sumahardika, sutradara dan penulis naskah dari Teater Kalangan Bali, melihat terputusnya koneksi dengan ruang nyata dan karena itu beralih ke ruang virtual. Suma mengidentifikasi hal-hal yang dapat dibawa ke ruang digital dan yang ditinggalkan serta mengeksplorasinya dalam konteks dramaturgi ruang digital yang  memperhitungkan mata kamera juga angle penonton. Suma percaya bahwa ruang digital bukanlah ruang kosong.

Yudi Tajudin, sutradara dari Teater Garasi Yogyakarta dan anggota Dewan Pengawas Penastri, menyodorkan pertanyaan tentang hal-hal yang dimunculkan teater di ruang digital ini. Ada akses terhadap karya dan ide karya yang lebih dibuka. Di mana pun orang-orang dapat menonton dan mempelajari ide.

Tanggapan lebih lanjut Yudi atas wacana yang digulirkan para pembicara adalah bahwa ketika identifikasi agenda penciptaan jelas maka pilihan siasat teater virtual menjadi lebih terukur. Pertunjukan teater dengan penonton terbatas juga merupakan alternatif lain di masa pandemi ini. Setiap pilihan ruang memiliki estetikanya sendiri. Pandemi mengajak kita untuk memeriksa ulang estetika juga hal-hal yang menjadikan teater sebuah peristiwa pertunjukan.

 

Jelajah Baru Teater

Dari berbagai wacana yang digulirkan di diskusi ada beberapa kecenderungan berpikir atas situasi yang dihadapi teater saat ini. Sebagian besar melakukan siasat pertunjukan teater virtual dengan penyesuaian atas praktik penciptaan yang telah dilakukan sebelumnya meski ada juga yang menolaknya. Saya pikir pandemi telah memantulkan banyak kekosongan dalam diri dan lingkungan kita dan persoalannya kemudian ialah bagaimana mengisi kekosongan. Dan teater adalah jalan yang kita miliki.

 

Selama pandemi masih berlangsung maka saya pikir teater virtual adalah siasat yang paling memungkinkan untuk ditempuh. Teater virtual merupakan ruang yang paling aman untuk menyatakan gagasan dan imajinasi. Pertunjukan teater langsung dengan kerumunan penonton belumlah pilihan yang aman. Teater virtual tidak menggantikan teater secara langsung. Kita sebaiknya memikirkannya dengan logika ruang yang berbeda sebagaimana yang dinyatakan Rebecca Kezia, salah seorang peserta diskusi yang juga adalah anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta. Kita tidak bisa menggunakan pengalaman menonton teater secara langsung untuk teater virtual.

 

Mungkin mulanya teater virtual hanyalah semata siasat namun kemudian kita bisa melihat dan menyadari ada hal-hal baru yang ditampakkan di sana. Teater virtual adalah siasat sekaligus jelajah baru. Ada banyak kemungkinan yang dimunculkan, mulai pengetahuan dan wawasan tentang teknologi dan audiovisual, istilah baru, hingga persentuhan teater dengan seni lainnya. Jelajah baru tersebut meluaskan jangkauan teater untuk tidak hanya berkutat dengan dirinya.

 

Jika siasat teater yang dimunculkan selama pandemi terbaca sebagai upaya temporer saya ingin mengulurkan pertanyaan, “Akankah siasat penciptaan teater yang dulu kembali? Mengapa itu harus kembali?” Dari diskusi Kaleidoskop Teater mencuat pernyataan bahwa pegiat teater tetap menginginkan hubungan konvensional antara pertunjukan langsung dan penonton. Mereka tetap ingin merasakan kehangatan dan keintiman yang dihasilkan hubungan tersebut yang selama ini dihayati sebagai roh teater. Tapi waktu dan cuaca bergerak.

 

Pertunjukan teater secara langsung dimaknai sebagai fondasi teater terutama sebab teater adalah bentuk seni yang mengandalkan pertemuan fisik antara pertunjukan dan penonton serta berupaya meraih keintiman atas pertemuan tersebut. Pertunjukan teater secara langsung bukanlah tindakan yang berjarak secara sosial.

 

Hal yang terjadi di pertunjukan teater virtual adalah sebaliknya. Jarak tak kasatmata terentang antara pertunjukan dan penonton. Para aktor tak dapat mengetahui apakah penonton terpukau oleh akting mereka atau apakah emosi mereka tiba dengan baik ke penonton. Tak ada tepukan tangan sebagai penanda yang terdengar seusai pertunjukan.

 

Pertunjukan teater virtual memiliki jangkauan penonton yang tersebar secara geografis yang sulit dimiliki teater langsung. Perihal ini diungkapkan Faiza, Silvester, Nurul, dan Suma. Penonton menyaksikan dan berkomentar tentang pertunjukan dan mereka berasal dari berbagai tempat bahkan yang tak terbayangkan oleh kita. Ihwal tersebut dapat dimaknai sebagai siasat teater untuk memperluas keterjangkauannya dan memperkenalkan cara berpikir yang berbeda perihal teater.

 

Teater virtual membiarkan dirinya diintervensi oleh penonton yang tak terbayangkan itu. Di saat yang sama teater virtual mesti melepaskan dirinya dari cengkeraman teater langsung.

 

Pandemi memaksa kita untuk membayangkan kembali teater. Mengalami pandemi berarti mengalami siasat baru. Sebuah siasat teater yang memerlukan sejumlah penyesuaian, negosiasi, dan keterbukaan. Tidak semata agar kita tetap bisa hidup di dalam teater tetapi terutama agar teater tetap terhubung dengan semesta.

Teater virtual telah menjadi penanda penting perjalanan teater Indonesia. Pertanyaan yang tersisa adalah: Apakah teater virtual memiliki masa depan setelah pandemi Covid-19 menjadi masa lalu? Kita tunggu.

 

Shinta Febriany

Sutradara teater dan Ketua Umum Penastri

 

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

Translate »
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp