Teater Indonesia Memantik Karya Berperspektif Maritim

Nenek Moyangku Seorang Pelaut karya Ibu Soed menjadi tembang yang membangun imaji anak-anak tentang kejayaan maritim Indonesia. Lagu ini didukung oleh fakta sejarah yang mencatat 500 persamaan kata dalam bahasa Makassar dan Aborigin, hasil akulturasi budaya yang lahir dari tradisi maritim sejak 400 tahun silam. Namun pada abad ke-17, corak agraris mendominasi, memengaruhi orientasi budaya bangsa, kurikulum pendidikan seni, hingga ekosistem teater yang cenderung meminggirkan budaya maritim. Lantas kini, bagaimana teater Indonesia membaca isu budaya maritim Nusantara?

Budaya maritim dipilih Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (Penastri) sebagai isu pertama yang dibahas dalam diskusi Teaterisu: Nenek Moyangku Seorang Pelaut: Teater Indonesia Membaca Peta Performativitas Budaya Maritim Nusantara, pada 26 Februari. Selama 90 menit, moderator Azhari Aiyub bersama dua pembicara, Asia Ramli, sutradara dan akademisi teater, dan Restu Gunawan, sejarawan dan Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbud, mengajak pegiat teater menyelami lebih dalam budaya maritim untuk melihat konteks sosial dan budaya sebagai pantikan ide eksperimen karya.

Teater sebagai instrumen pendidikan seni memiliki kekuatan untuk mendukung langkah pemerintah yang sejak 10 tahun terakhir berupaya menggeser pola agraris ke maritim, menjadikannya masa depan Indonesia. Namun ironis, 33 tahun bergelut sebagai pengajar seni di Universitas Negeri Makassar, Asia Ramli tak melihat keberpihakan kurikulum pendidikan dan teater pada budaya maritim, padahal menurutnya, wawasan bahari penting agar generasi muda lebih sensitif melihat permasalahan sosial, budaya, dan mengeksplorasi ide penciptaan artistik yang baru. “Di era globalisasi ini, dibutuhkan model dan strategi teks untuk membangun peradaban bahari dengan mendayagunakan potensi maritim melalui pendidikan teater,” ujarnya.

Dalam risetnya, “Mendayagunakan Potensi Maritim Sebagai Strategi Teks Membangun Peradaban Bahari Melalui Pendidikan Teater di Sulawesi Selatan”, ia melacak karya sastra berperspektif maritim yang pernah diterbitkan, seperti aksara lontara Bugis kuno, I La Galigo, dan Aspar Paturusi dalam karya Sukma Laut (1985), Ombak Losari (1992), dan Antologi Sastra Kepulauan.

Namun seiring perkembangannya, sastra kepulauan tenggelam dengan kuatnya arus teater realis pada 1970-an dan teater eksperimental yang dipopulerkan WS Rendra, juga politik kuratorial yang tak menyentuh tema maritim. “Salah satu model yang bisa ditempuh dalam pendidikan teater adalah menerapkan kurikulum model rekonstruksional sosial berbasis budaya maritim,” sambungnya.

Sebagai sumbangsih agar memantik teater berperspektif maritim, dia mengusulkan tujuh strategi kolaborasi teater maritim yang dapat diaplikasikan, yakni, pertama, identifikasi gagasan tradisi lisan seperti mitos, legenda, dan sejarah tentang peradaban bahari; kedua, riset dan menyelenggarakan seminar dan diskusi; ketiga, pendekatan persuasi; keempat, lokakarya dan eksplorasi; kelima, dramaturgi; keenam, pemanggungan; dan ketujuh, penonton.

Selain dalam riset, Asia Ramli rutin membawa narasi maritim, salah satunya tentang hubungan suku Bugis dan Aborigin ke atas pentas The Eyes of Marege, kolaborasi Teater Kita Makassar dan Australian Performance Exhance dalam Festival Adelaide dan Studio Opera House Australia, 5–7 Oktober 2007.

Jalur Rempah sebagai Diplomasi Budaya 

Jalur rempah menjadi siasat diplomasi budaya Indonesia yang diusulkan ke UNESCO sebagai warisan dunia yang akan diputuskan pada 2024 atau 2025 mendatang. Program ini mengupayakan rekonstruksi perdagangan rempah di Nusantara yang berlangsung sejak 4,5 milenium lalu. Program ini akan menyentuh hulu ke hilir sektor seni budaya yang merangkul masyarakat adat hingga memutar roda ekonomi daerah.

Untuk mewujudkannya, pemerintah melalui Kemendikbud fokus menggelar program Jalur Rempah pada 2021–2024, yang akan membangkitkan unsur seni, budaya, dan sejarah Indonesia sebagai negara maritim terbesar di Asia Tenggara. “Meskipun ini program top down, namun ini perlu konsolidasi berbagai pihak, ilmuan, stakeholder, seniman, dan lainnya untuk terlibat,” ujar Restu.

Nantinya, seni budaya akan menjadi aspek penting yang mengurai keragaman SDA dan corak tradisi dari Sabang sampai Merauke. Program ini sekaligus menjadi pengalaman dan wawasan seniman untuk menciptakan karya berperspektif maritim. Nova Ruth, musisi yang telah menjajal program Jalur Rempah menceritakan pengalamannya selama berada di kapal Arka Kinari yang menyusuri laut berbagai negara hingga sempat menepi di Makassar. Hidup di atas kapal membuat pemilik album Napak Tilas ini menyaksikan kerusakan alam yang terjadi dan jejak peradaban maritim Indonesia, ia pun mengampanyekan isu perubahan iklim melalui lagu. “Harus dimulai dengan rasa cinta pada lautan dan hasilnya membangkitkan simpati,” katanya.

Fadhlan, peserta asal Aceh, menceritakan kurangnya akses literasi sebagai referensi seniman di luar pulau Jawa. Ia pun berharap agar ke depannya, Jalur Rempah tak sekadar menjalankan program namun juga menyuplai fasilitas literasi. “Untuk mendapatkan buku referensi, kami harus sampai pesan ke Yogyakarta, itu pun kalau punya uang,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Restu menyadari selama masa pandemi Covid-19, pemerintah pusat tak sepenuhnya memfasilitasi program ini, perlu sinergi pemerintah daerah, seniman, dan masyarakat luas agar kejayaan maritim tak menjadi nyanyian masa kecil semata.

Selira Dian

Jurnalis/Penulis, Anggota Penastri

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

Translate »
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp