Kemaritiman dan Teater Indonesia, Di Mana Titik Temunya?

oleh Gladhys Elliona*

 

Sepuluh tahun terakhir, kejayaan maritim Indonesia sering menjadi agenda yang digadang oleh pemerintah — bahkan hingga dibentuk kementeriannya. Jika memang kemaritiman menjadi poros untuk pembangunan negara, maka semestinya, semua bidang — tidak hanya ekonomi dan politik, tetapi juga bidang budaya — juga merasakannya. Perkumpulan Nasional Teater Indonesia atau Penastri, sebagai bagian dari lembaga kebudayaan ingin tahu apa posisi teater dalam diskursus kemaritiman. Penastri menggelar diskusi Teaterisu tentang Teater dan Kemaritiman yang mengundang sejarawan dan perwakilan dari Dirjen Kebudayaan, Restu Gunawan; sutradara teater, Asia Ramli; dan Nova Ruth, seniman residen di kapal budaya Arka Kinari. Perbincangan ini dimoderatori oleh Azhari Aiyub.

Restu Gunawan menyatakan bahwa, paradigma kita tentang laut bergeser ke agraris karena tradisi kemaritiman kita yang hancur pada masa kolonial. Di masa VOC dan Pemerintahan Hindia Belanda, beberapa peraturan adat tentang laut dilarang, misalnya pelarangan tawan karang hingga terbitnya Perjanjian Bongaya. Belanda mengambil alih pengelolaan pelabuhan di berbagai kota pantai — yang tentu menjadi sumber ekonomi dan penguasaan politik di kemudian hari melalui apa yang kita kenal dengan Jalur Rempah. Hubungan kelautan berbagai bangsa Nusantara pada masa prakolonial sebenarnya sangat kuat. Bangsa kita telah melakukan kontak perdagangan dengan peradaban besar di dunia. Kita bisa melihat buktinya pada penggunaan pengawetan mayat di Mesir yang menggunakan kapur barus dari Sumatera, migrasi ke Madagaskar, hingga pertukaran pendidikan dan budaya dengan India dan Tiongkok yang dilaksanakan melalui hubungan maritim. Jalur laut yang digunakan untuk perhubungan antarbangsa ini sejak ratusan hingga ribuan tahun yang lalu didasari oleh transportasi pertukaran rempah, maka jalur ini tepat disebut Jalur Rempah. Saat ini, Jalur Rempah sedang dipersiapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk dijadikan UNESCO World Heritage kategori jalur.

Hal yang senada juga disampaikan oleh praktisi teater senior, Asia Ramli, yang menyampaikan pemaparannya dari Makassar. Beliau menyampaikan bahwa, bangsa Bugis bahkan telah melakukan perkawinan campur dengan masyarakat adat Yolngu di Australia sejak lama. Peristiwa ini tidak diabadikan oleh pendidikan negara kita. Asia Ramli yang juga merupakan seorang pendidik menyampaikan bahwa pertemuan maritim yang telah terjadi jauh sebelum era kolonial semestinya menjadi bagian dari kurikulum pelajaran sejarah di sekolah-sekolah; bahwa kosmologi bahari dan antropologi kepulauan adalah bagian dari jati diri Indonesia. Jika sejarah bahari kita tidak mendapatkan tempatd alam pendidikan, teater dan seni pertunjukan yang berkembang dari jalur maritim tentu semakin bergerak di bawah arus. Menurut Asia Ramli, pengetahuan teater negeri kita datang dari interaksi budaya maritim.

Perbincangan ini juga turut menghadirkan perspektif kekinian terkait seni pertunjukan dan kemaritiman yang disampaikan oleh Nova Ruth dari kapal seni Arka Kinari. Berbeda dari pembicara sebelumnya yang menitikberatkan konteks sejarah, Nova Ruth menyampaikan bahwa kini, seni juga bisa berhubungan langsung dengan laut dengan membawa semangat kampanye isu iklim. Arka Kinari membawa isu modern tentang pentingnya laut dalam kehidupan kita melalui berbagai program seni yang diadakan di atas kapal tersebut, misalnya dengan pertunjukan musik dan residensi. Tujuan dari Arka Kinari sendiri adalah meningkatkan kesadaran isu lingkungan, anthropocene, signifikansi perempuan dalam bahari, serta eksplorasi karya berdasarkan sejarah alternatif tentang maritim; seperti perbudakan, penyakit, dan teknologi perang. Kapal Arka Kinari juga membawa pesan damai dengan menerapkan aturan keterbukaan dan non-diskriminasi. Diskusi yang berlangsung juga masih mengemukakan tentang kurangnya materi tentang peradaban bahari dan masih sedikitnya program kuratorial yang berhubungan dengan budaya maritim.

Melalui diskusi ini, kita diajak untuk menilik ulang kemaritiman yang kemudian menjadi titik tolak bagaimana seniman menyampaikan keresahan tentang akar bangsa. Laut yang seharusnya menjadi fokus para seniman untuk dapat menyampaikan kearifan lokal dalam karya seni kini lebih banyak terbungkam — karena meski pemerintah mencoba untuk mengarusutamakan isu maritim, hal tersebut tidak terasa di masyarakat. Seniman sebagai bagian dari masyarakat pun luput dari kesadaran tersebut. Diskusi tentang kemaritiman dan teater ini mengajak insan seni pertunjukan untuk kembali meninjau akar diri serta memantik kreativitas melalui pembelajaran sejarah dan lingkungan.

 

*Gladhys Elliona adalah penulis, peneliti seni dan aktor teater. Mahasiswi Pascasarjana Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Universitas Gadjah Mada. Ia telah melakukan riset tentang kesehatan mental dan resiliensi dalam teater Indonesia.

Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

Translate ยป
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
RSS
Follow by Email
Instagram
WhatsApp