Bagaimana Patriarki Menyusup dalam Panggung Teater Kita?

 

Selira Dian

 

Struktur macam apa yang membuat kita tak mendengar, membicarakan, dan mengkritisi karya perempuan seniman? Pertanyaan ini membuka diskusi Teaterisu #2, “Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin”, oleh Perkumpulan Nasional Teater Indonesia (Penastri). Mari hentikan sejenak proses reading, olah tubuh, dan vokal untuk turun dari panggung dan merenung.  

 

Sebagai pelaku teater, tentu kita fasih menyebut Arifin C. Noer, W.S. Rendra, Teguh Karya, N. Riantiarno, dan Putu Wijaya sebagai deretan babon dramatrug Indonesia. Tak ada satu pun keterwakilan perempuan hadir di antaranya. Jika perempuan hadir, maka ia telah ditafsir laki-laki, male gaze tak terhindarkan. Pemantik diskusi, Intan Paramaditha, penulis cum dosen kajian media dan film, Universitas Macquarie, Sydney, dengan jeli mengamati dominasi pria yang membuat sejarah teater Indonesia begitu maskulin.

 

Lakon Mega, Mega (1968) karya Arifin C. Noer, misalnya, menampilkan perempuan dalam dua tokoh kontras, pelacur, dan ibu. Begitu biner, perempuan diukur dengan standar moral dan amoral; jika tidak binal, maka ia bijak. “Kecenderungan ini begitu terlihat dan identik dengan pola Orde Baru yang sebenarnya sangat ia (Arifin C. Noer) benci,” kata Intan dalam paparannya, Jumat, 30 Mei 2021.

 

Di tahun yang sama dengan lakon Mega, Mega ditulis, W.S. Rendra tengah asyik membaca sajak “Bersatulah Pelacur-Pelacur Jakarta”. Dengan lantang, si Burung Merak itu menyuruh para pelacur (perempuan) untuk berhenti tersipu-sipu di saat negara dengan segala kebijakannya yang timpang, menyalahkan moral pelacur sebagai penyebab bencana. Ia menyebut para pelacur sebagai “temanku” untuk memberi kesan keberpihakannya pada kaum marginal. Sekilas sajak ini tampak heroik, namun jika ditelisik lagi, maka kita akan menemukan gambaran perempuan yang ditatap pasif, tak mampu berpikir, dan tak punya suara sendiri untuk menggugat. Sajak “Sumpah WTS” karya F. Rahardi (1983) lebih ironis, mengobjektivikasi tubuh perempuan untuk misuh-misuh belaka. 

 

Kita mungkin kaget dengan fakta ini, tapi Intan mengajak kita lebih jauh lagi untuk melacak apa yang para pria seniman ini baca hingga memengaruhinya dalam berkarya. Intan melihat pengaruh Eugene Ionesco dan William Shakespeare yang kuat. Kenapa Eugene dan Shakespeare, bukan Susan Glaspell atau Anna Mowatt? Padahal mereka hidup di zaman yang tak merentang jauh, pun sama-sama punya karya yang dicatat sejarah teater dunia. Lalu mengapa tak menjadikan Susan, Anna, dan perempuan dramaturg lainnya sebagai salah satu referensi? 

 

Bayangkan, puluhan tahun kita hidup dalam tradisi naskah yang begitu maskulin dan dengan bangga mementaskannya di berbagai panggung. Intan hanya menunjukkan satu naskah lakon dan dua sajak, tentu masih banyak karya seni lainnya yang serupa, namun dianggap lumrah jika tak dilihat dalam perspektif feminis. Naskah yang tak sensitif gender memperparah lingkup kerja teater yang umumnya masih didominasi pria hingga kini. Pria hadir sebagai konseptor (sutradara), mengatur dan mengambil keputusan penting, sementara perempuan kerap menempati posisi eksekutor di bidang manajemen (penata rias, busana, seksi konsumsi, manajer panggung, dan pimpinan produksi). Perempuan dikonstruksi lekat dengan pekerjaan domestik, dianggap mampu mengurusi tetek bengek manajemen panggung. Alih-alih melihat perempuan berkarya di muka publik, malah masuk jebakan Batman domestikasi lagi. Tak hanya itu, perempuan yang memutuskan menikah sering tak berteater lagi, penyebabnya tak lain, beban ganda mengurus anak, domestik, dan larangan dari suami yang patriarkis. Dari ranah domestik hingga publik, perempuan didikte. 

 

Dalam 15 menit, Intan mencecar puluhan pegiat teater dengan “10 Pertanyaan Menuju Praktik Seni Feminis” yang membongkar dari hulu ke hilir praktik dan perspektif pelaku teater dalam berkarya.  Argumen Intan kian diperkuat dengan pemaparan Tya Setiawati, aktor, penulis lakon, dan sutradara Teater Sakata, Padang Panjang. Sebagai praktisi, Tya merasakan betul stigma perempuan yang dianggap emosional sehingga tak mampu memimpin kerja teater yang bersifat kolektif, tidak rasional mengambil keputusan, dan tak punya waktu yang lentur untuk berproses. Stigma ini begitu laten dalam kerja teater, ironisnya, sebagian besar perempuan justru ikut mengamini hal ini. 

 

Padahal pangkal perkaranya adalah soal kesempatan yang jarang diberikan kepada perempuan untuk membuktikan kapasitasnya. Di panggung yang patriarki, perempuan selalu tumbuh sebagai seniman yang manut, diatur, dan diukur standarnya berdasar kemampuan akting (tentu kecantikannya) oleh laki-laki patriarkis dan perempuan yang sadar atau tidak ikut melanggengkan sistem ini.  “Perempuan harus seksi, menampilkan gestur tubuh yang sebenarnya tidak nyaman dilakukan, ini yang terjadi jika sutradara tidak memiliki perspektif gender,” ujar Tya.  

 

Hal itu membuat Tya melawannya dengan mengambil isu gender dalam karya-karya Teater Sakata, yakni Bumi Perempuan (2007), Tiga Perempuan (2009), dan Carito Mande dari Bukit Tuli (2011). Dari pengalamannya, Tya melihat urgensi perempuan sebagai sutradara yang punya peran sentral untuk menyuarakan diskriminasi dan menjaring simpul-simpul perlawanan terhadap segala ketidakadilan gender dalam ekosistem teater. Tak berhenti sampai pentas, pada 2007 ia menginisiasi laboratorium teater berperspektif gender yang melibatkan semua perempuan sebagai sutradara, penata artistik, musik, dan lainnya. Hasilnya, Tya dkk. mampu memantik wacana yang semula tabu menjadi cair untuk dibicarakan. Berkat konsistensinya di isu gender, ia meraih Hibah Seni Kelola 2006 kategori karya inovatif dalam lakon Dekonstruksi Perawan, Hibah Program Empowering Women Artists (EWA) Kelola pada 2007, dan Bunga Comberan masuk dalam program teater pemberdayaan Theatre for Development and Education (TDE). 

 

Dari Intan dan Tya, kita menyadari praktik seni gender adalah kerja kolektif, seperti halnya teater. Tak akan terwujud panggung yang adil gender tanpa kontribusi setiap pelaku di dalamnya. Setelah merenung, mari kembali ke panggung dan melakukan perubahan. 

 

  • • •

 

Selira Dian adalah jurnalis/penulis, anggota Penastri. 










Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Not readable? Change text. captcha txt

Start typing and press Enter to search

Translate »
Wordpress Social Share Plugin powered by Ultimatelysocial
Follow by Email
Instagram
WhatsApp