KalamPuan 4
Kekuasaan selalu berkelindan dengan tata nilai sosial kita. Dalam sebuah sistem masyarakat yang utuh, perlu adanya birokrasi, hierarki, dan legasi. Ia yang mewakili seluruh entitas di dalamnya, pun menjadi peleburan sistem sosial itu sendiri.
Sayangnya, kekuasaan sering kali menjadi pedang bermata dua. Ia bisa menjadi ibu yang tegas, yang mengayomi anaknya dengan tangan perkasa, ia bisa juga menjadi ibu yang kejam, penuh kesewenang-wenangan, memanipulasi ‘kepentingan bersama’ demi memperpanjang lengan kuasanya.
Kuasa bisa menjadi milik siapa saja, yang terpilih secara alami, maupun yang dipilih melalui demokrasi. Ia yang lebih unggul dari yang lain. Ia yang lebih pantas dari yang lain. Tetapi apakah ia selalu dapat menjaga amanah ‘yang lain’? Di tengah riuhnya tahun politik di negeri sendiri maupun konflik politik dunia tetangga, Penastri mengajak para perempuan penggiat teater untuk menengok kekuasaan yang terjadi di keseharian kita, baik kita sebagai pengamat di luar pagar ataupun kita sebagai subjek yang terlibat di dalamnya. Keseluruhan yang
terjadi di wilayah domestik yang lekat dengan kita, perempuan sebagai tampuk kuasa ataupun perempuan sebagai korban kuasa, karena dimanapun perempuan berada, hakikat manusia tetap melekat di dirinya.
Pembicara:
- Arthur S. Nalan
- Tya Setiawati
- Ayu Utami
- Lilik HS
Fasilitator: Seno Joko Suyono dan Luna Vidya
Peninjau:
- Ratri Ninditya
- Silvester Petara Hurit
- Selvi Agnesia
Peserta Terpilih:
- Annisa Effendi
- Canda Syaqila Maretantia
- Dhianita Kusuma Pertiwi
- Dona Sabatina
- Dwi Hariningsih
- Fadhillah Hayati
- Fera Engel
- Fioretti Vera
- I Gusti Ayu Eka Susanti Dewi
- Ira Diana
- Layla Shafariah
- Mutia Putri Pirmadoni
- Najwa Annisa
- Rara Hawa Locita
Observer: Gladhys Elliona dan Sari Setyorini