BEGIN:VCALENDAR
VERSION:2.0
PRODID:-//Penastri - ECPv6.16.2//NONSGML v1.0//EN
CALSCALE:GREGORIAN
METHOD:PUBLISH
X-ORIGINAL-URL:https://penastri.org
X-WR-CALDESC:Events for Penastri
REFRESH-INTERVAL;VALUE=DURATION:PT1H
X-Robots-Tag:noindex
X-PUBLISHED-TTL:PT1H
BEGIN:VTIMEZONE
TZID:Asia/Krasnoyarsk
BEGIN:STANDARD
TZOFFSETFROM:+0700
TZOFFSETTO:+0700
TZNAME:+07
DTSTART:20200101T000000
END:STANDARD
END:VTIMEZONE
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20230808T100000
DTEND;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20230808T120000
DTSTAMP:20260523T221931
CREATED:20230807T103021Z
LAST-MODIFIED:20230807T103452Z
UID:894-1691488800-1691496000@penastri.org
SUMMARY:
DESCRIPTION:
URL:https://penastri.org/acara/894/
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://penastri.org/wp-content/uploads/2023/08/dana-indo.jpg
ORGANIZER;CN="PENASTRI":MAILTO:penastri@gmail.com
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20211012T080000
DTEND;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20211021T170000
DTSTAMP:20260523T221931
CREATED:20211012T022723Z
LAST-MODIFIED:20211012T024745Z
UID:764-1634025600-1634835600@penastri.org
SUMMARY:KalamPuan  |  Workshop Perempuan Menulis Naskah Teater: Tafsir Ulang Folklor
DESCRIPTION:KalamPuan\nWorkshop Perempuan Menulis Naskah Teater\n“Tafsir Ulang Folklor” \nKalamPuan diinisiasi Penastri sebagai ruang inklusif bagi perempuan penulis naskah teater untuk mewujudkan pemikiran dan imajinasinya. KalamPuan bertujuan untuk memunculkan dan mendokumentasikan pemikiran dan imajinasi perempuan penulis naskah teater\, menguatkan kehadiran dan jumlah perempuan penulis naskah teater\, mengintervensi teater Indonesia melalui sudut pandang perempuan\, dan menguatkan posisi perempuan sebagai subjek di arena teater Indonesia. \nKalamPuan menggunakan pemahaman tentang kategori perempuan dalam pengalaman biologis dan pengalaman sosial. KalamPuan #1 mengusung tema Tafsir Ulang Folklor. Folklor sangat sering dijadikan referensi perihal posisi dan citra perempuan. Workshop ini membatasi penelusuran pada cerita rakyat yang merupakan salah satu bagian dari folklor lisan. \nKetentuan Program\n1. Seluruh rangkaian program berlangsung sepanjang November 2021 s.d. April 2022\n2. Pendaftaran dibuka 12 s.d. 21 Oktober 2021\n3. Kuota peserta terpilih sebanyak 15 orang\n4. Peserta terpilih diumumkan 25 Oktober 2021\n5. Pendaftaran dilakukan melalui linktr.ee/Penastri\n6. Info lengkap bisa diakses di www.penasti.org\n7. Narahubung: 0878-2289-7335 \nSyarat Pendaftar\n1. Orang yang mendefinisikan dirinya sebagai perempuan\n2. Berusia 17 hingga 35 tahun\n3. Pernah menulis minimal satu naskah teater\n4. Memilih satu folklor dan menulis alasan serta proyeksi atas folklor tersebut ketika ditulis sebagai naskah teater\n5. Melampirkan riwayat hidup dan foto\n6. Berkomitmen mengikuti seluruh tahapan program
URL:https://penastri.org/acara/kalampuan-workshop-perempuan-menulis-naskah-teater-tafsir-ulang-folklor/
CATEGORIES:PROGRAM PENASTRI
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://penastri.org/wp-content/uploads/2021/10/kalampuan-1.jpg
ORGANIZER;CN="PENASTRI":MAILTO:penastri@gmail.com
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210531T140000
DTEND;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210531T160000
DTSTAMP:20260523T221931
CREATED:20210523T103541Z
LAST-MODIFIED:20210530T170132Z
UID:759-1622469600-1622476800@penastri.org
SUMMARY:SENI DAN HAK SOSIAL EKONOMI: Membaca kovenan UNESCO tahun 1980 mengenai status sosial ekonomi seniman
DESCRIPTION:Kovenan UNESCO tahun 1980 membahas seputar status (atau hak) sosial ekonomi seniman. Kovenan tersebut diadopsi oleh konferensi umum UNESCO pada sesi kedua puluh satu tahun 1980 dan disusun untuk memperkuat peran (juga meningkatkan status) dari para pekerja seni dengan mempertimbangkan kondisi khusus dari profesi serta kontribusinya terhadap pembangunan negara. Didalamnya terdapat seruan untuk meningkatkan status profesional\, sosial dan ekonomi seniman melalui penerapan kebijakan (serta tindakan) yang terkait dengan pelatihan\, jaminan sosial\, pekerjaan\, kondisi pendapatan\, pajak\, mobilitas dan kebebasan berekspresi. Peraturan ini juga mengakui hak seniman untuk membentuk serikat pekerja (atau organisasi profesional) yang dapat mewakili dan membela kepentingan anggotanya. Hingga saat ini kovenan 1980 tetap relevan\, mengingat tantangan dalam bidang hak sosial ekonomi yang dihadapi oleh seniman di seluruh dunia\, serta dampak teknologi digital pada karya mereka. \n  \nTerkait dengan perealisasian amanat dari kovenan tahun 1980\, dalam beberapa tahun terakhir ini\, secara bertahap\, pemerintah Indonesia terus menyusun kebijakan yang mendukung kehidupan sosial ekonomi para pelaku seni budaya di Indonesia\, salah satunya adalah dengan menetapkan Undang Undang Pemajuan Kebudayaan. Selain itu\, di masa pandemi covid 19\,  pemerintah berkomitmen untuk memberikan remunerasi atau bantuan pada warga Negara Indonesia yang terdampak oleh wabah ini\, termasuk juga para seniman.
URL:https://penastri.org/acara/seni-dan-hak-sosial-ekonomi-membaca-kovenan-unesco-tahun-1980-mengenai-status-sosial-ekonomi-seniman/
LOCATION:ZOOM
CATEGORIES:PROGRAM PENASTRI
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://penastri.org/wp-content/uploads/2021/05/untitled-1.jpg
ORGANIZER;CN="Kepala Bidang Advokasi Kebijakan Seni Penastri":MAILTO:Penastri.info@gmail.com
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210430T133000
DTEND;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210430T153000
DTSTAMP:20260523T221931
CREATED:20210426T060142Z
LAST-MODIFIED:20210426T060142Z
UID:725-1619789400-1619796600@penastri.org
SUMMARY:Teaterisu #2 Pekik Perempuan di Panggung yang Maskulin (Feminisme dan Teater di Indonesia)
DESCRIPTION:Teaterisu #2 \nApril 2021 \nPekik Perempuan di Atas Panggung yang Lelaki\nFeminisme dan Teater di Indonesia \nPada sebuah masa keemasan teater Indonesia\, pada rentang 1968–1988\, tidak ada satu pun nama pegiat teater perempuan yang tercatat. Pada masa yang oleh Jakob Sumardjo disebut sebagai “zaman emas kedua teater Indonesia” ini setidaknya dipentaskan 102 lakon Indonesia\, dan tak satu pun di antaranya ditulis oleh perempuan. Teater Indonesia di masa tersebut ditampilkan tanpa sudut pandang perempuan. Kondisi ini masih berlanjut hingga masa bubarnya Orde Baru. Setelahnya\, barulah suara perempuan mulai terdengar di atas panggung teater Indonesia: mulanya samar\, kian jelas\, lalu memekik. \nPekik tersebut terdengar dalam dua makna: (1) jeritan atas kuasa panjang lelaki terhadap panggung teater; (2) teriakan gugatan terhadap kuasa itu\, tuntutan akan proses kreasi yang setara di atas panggung teater Indonesia. Pekikan para pegiat teater perempuan Indonesia ini menjadi penanda yang jelas bagi gerakan teater berperspektif feminis di Indonesia\, yang bergerak dinamis\, walau di sana-sini masih bertemu dengan berbagai sandungan akibat maskulinitas yang telah terlalu mengakar di panggung teater Indonesia\, bahkan semenjak di ruang-ruang kebudayaan tradisi. \nKemunculan dan keberlanjutan berbagai gerakan atau karya teater berperspektif feminis di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari keberadaan gerakan feminisme di Indonesia. Kedua ruang ini sering kita lihat menjalin kebersamaan guna menggugah kesetaraan gender di ruang besar bernama Indonesia yang dianggap terlalu maskulin. Sebagaimana Indonesia\, panggung teater Indonesia juga bukanlah panggung yang bebas nilai. Ia juga lahir dari berbagai sistem dan hegemoni yang muncul dari ruang yang dianggap terlalu maskulin itu. Dengan demikian\, kehadiran teater dengan perspektif feminis menjadi strategi perempuan untuk hadir di panggung teater Indonesia yang maskulin itu. \nBagaimana gerakan feminisme menjalin ‘kekerabatan’ dengan seni di Indonesia? Bagaimana gerakan feminisme dan teater Indonesia saling menenun ide dan berjejaring dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di Indonesia? Sejauh mana kadar maskulinitas panggung teater Indonesia? Seperti apa estetika teater Indonesia yang terlalu maskulin menindas hak perempuan di panggung teater? Bagaimana para pegiat teater perempuan di Indonesia mewujudkan ide-ide feminisme dalam karya dan wacana teater sehingga menciptakan “estetika teater feminis Indonesia”? \n  \n\nIntan Paramaditha (pembicara/pemakalah)\, penulis\, aktivis feminisme\, serta dosen pengkajian media dan film di Macquarie University\, Sydney. Karya-karya fiksi dan akademisnya mengeksplorasi persinggungan gender dengan seksualitas\, budaya\, dan\nTya Setiawati (pembicara/pemakalah)\, aktor\, penulis lakon\, dan sutradara Teater Sakata\, Padang Panjang. Sebagian besar karyanya mengangkat isu perempuan dengan gaya kontemporer\, termasuk wacana “diskriminasi gender” dan pengaruhnya bagi kehidupan perempuan secara\nIlda Karwayu (moderator)\, penulis asal Lombok\, bergiat di Komunitas Akarpohon dan PUANSENI (Perkumpulan Perempuan Pekerja Seni Indonesia).\n\n 
URL:https://penastri.org/acara/teaterisu-2-pekik-perempuan-di-panggung-yang-maskulin-feminisme-dan-teater-di-indonesia/
LOCATION:ZOOM
CATEGORIES:PROGRAM PENASTRI
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://penastri.org/wp-content/uploads/2021/04/poster.jpg
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210408T140000
DTEND;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210408T160000
DTSTAMP:20260523T221931
CREATED:20210409T053857Z
LAST-MODIFIED:20210409T054330Z
UID:645-1617890400-1617897600@penastri.org
SUMMARY:EVOKASI #1 SENI DAN HAM
DESCRIPTION:SENI DAN HAK ASASI MANUSIA: \nMemahami wacana hak kebebasan berekspresi seni melalui Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. \nKetika berbicara mengenai advokasi seni\, maka persoalan mengenai hak asasi manusia selalu ada di sana. Alasannya adalah karena kebebasan berkesenian dapat dilakukan dengan aman bila ada perlindungan terhadap hak asasi manusia\, di mana seniman merupakan salah satu bagian di dalamnya. Di antara ragam hak asasi manusia yang terkait dengan itu adalah hak atas kebebasan berekspresi dan hak atas kebudayaan.  \n  \nDeklarasi Universal Hak Asasi Manusia adalah sebuah pernyataan umum hak asasi manusia yang disusun oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dan diratifikasi pada tanggal 10 Desember 1948 di Palais de Chaillot\, Paris (Perancis). Pernyataan umum tersebut terdiri dari 30 pasal yang berisikan garis besar pandangan Majelis Umum PBB mengenai prinsip-prinsip dasar hak asasi manusia\, di antaranya adalah: hak untuk hidup\, menyampaikan pendapat\, kebebasan beragama\, berkumpul dan berserikat\, mendapatkan jaminan sosial\, turut serta dalam gerakan kebudayaan\, menikmati kesenian juga berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan. \n  \nDi Indonesia\, pada era Orde Baru\, teater modern memilih wacana perlawanan untuk merespon represi pemerintah terhadap pikiran kritis masyarakat dan kontrol ketat terhadap media massa. Pegiat teater mendekati mahasiswa\, aktivis dan kelompok sosial lain yang tidak sepakat dengan kebijakan itu. Sebagian dari mereka bekerja dengan petani dan pekerja urban. Perlawanan terhadap ideologi negara ditampilkan di panggung dengan cara halus dan menggunakan simbol-simbol kontrol tradisional. Beberapa kasus pelanggaran terhadap hak kebebasan berkesenian yang diketahui adalah penahanan WS. Rendra (1978)\, pelarangan pentas Teater Koma saat membawakan naskah “Suksesi” (1991) dan pencekalan terhadap kelompok teater Satu Merah Panggung saat akan mementaskan naskah “Marsinah Menggugat” karya Ratna Sarumpaet (1997). Di sepanjang tahun 2010-2020 juga tercatat ada beberapa kasus pelarangan terhadap kerja kreatif pegiat teater. Untuk menghadapi permasalahan seperti itu\, maka diperlukan pemahaman terhadap advokasi kebijakan untuk menjaga agar hak untuk berekspresi seni tidak mendapatkan represi serta pengekangan. \nStudi advokasi kebijakan seni #1 akan membahas wacana tersebut bersama dua orang  narasumber dari wilayah disiplin kerja yang berbeda. Narasumber yang akan hadir pada sesi pertama ini adalah: Hafez Gumay (koordinator bidang advokasi kebijakan Koalisi Seni Indonesia) dan Naomi Srikandi (sutradara teater). Kedua pembicara diharapkan memberikan pandangannya seputar wacana hak kebebasan berekspresi seni ditilik dari gagasan yang terdapat pada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. 
URL:https://penastri.org/acara/evokasi-1-seni-dan-ham/
LOCATION:ZOOM
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://penastri.org/wp-content/uploads/2021/04/untitled-1-01-2-scaled.jpg
ORGANIZER;CN="Kepala Bidang Advokasi Kebijakan Seni Penastri":MAILTO:Penastri.info@gmail.com
END:VEVENT
BEGIN:VEVENT
DTSTART;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210226T140000
DTEND;TZID=Asia/Krasnoyarsk:20210226T160000
DTSTAMP:20260523T221931
CREATED:20210319T084842Z
LAST-MODIFIED:20210319T085743Z
UID:579-1614348000-1614355200@penastri.org
SUMMARY:TEATERISU#1 NENEK MOYANGKU SEORANG PELAUT: TEATER INDONESIA MEMBACA PETA PERFORMATIFITAS BUDAYA MARITIM NUSANTARA
DESCRIPTION:Nenek Moyangku Seorang Pelaut \nTeater Indonesia Membaca Peta Performativitas Budaya Maritim Nusantara \n  \nKetika kita sepakat dengan Indonesia atau Nusantara sebagai satu kesatuan maritim\, adakah perkembangan teater kita beririsan dengan alur kemaritiman itu\, baik geografis maupun kultural? Bagaimana teater menjalin relasi dan mengambil bagian dalam narasi nenek moyang kita yang orang laut itu?  \n  \nKetika kita makan sepotong ikan laut\, kita tengah mengonsumsi sepotong hasil dari mata rantai panjang yang berujung pada kebudayaan maritim. Dari sepotong ikan lain\, kita terkoneksi dengan pasar ikan\, lelang ikan\, kebijakan kelautan\, otot-otot yang menarik jala\, perayaan petik laut\, ritual memanggil ikan\, budaya tutur\, nyanyian laut. Ruang-ruang budaya maritim menggelar berbagai performativitas yang imbasnya mengalur bukan hanya di wilayah pesisir\, namun hingga ke ruang-ruang kota pedalaman dan desa pegunungan. Peta budaya maritim bukan hanya guratan laku orang laut dan pesisir\, namun mengalur hingga ke pedalaman dan pegunungan.  \n  \nPeta performativitas budaya maritim Nusantara membentang dari laku tubuh orang laut\, mengalir dalam distribusi ekonomi hasil laut\, menyonggol politik dan regulasi kelautan\, berkidmat di berbagai ritual laut dan sistem kepercayaan\, beresonansi dalam nyanyian dan narasi sastra tutur\, memvisualkan diri dalam berbagai corak dan warna perahu\, bermukim dalam pola dan orientasi keruangan masyarakat pesisir\, tergurat dalam berbagai simbol dan rupa yang bahkan digunakan oleh masyarakat pedalaman. Di mana teater mengambil titik atau alur dalam bentangan peta tersebut?  \n  \nTeaterisu #1 akan mendiskusikan isu tersebut bersama dua narasumber dari disiplin yang berbeda. Seorang ahli kebudayaan maritim dihadirkan guna memaparkan peta budaya maritim Nusantara dan membuka pengetahuan tentang simpul-simpul performativitas yang ada di sana. Di perspektif yang lain adalah seorang pegiat teater yang berkarya dan beraktivitas teater dengan bersentuhan dengan ruang dan narasi maritim. Kedua narasumber ini diharapkan bisa menautkan di mana irisan antara teater dan budaya maritim Nusantara. 
URL:https://penastri.org/acara/teaterisu/
LOCATION:ZOOM
CATEGORIES:PROGRAM PENASTRI
ATTACH;FMTTYPE=image/jpeg:https://penastri.org/wp-content/uploads/2021/03/teaterisu-vol1.jpg
END:VEVENT
END:VCALENDAR